Gubernur Koster: AI Tak Boleh Gantikan Kecerdasan Budaya Bali

Facebook
WhatsApp
Telegram

Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus berjalan beriringan dengan kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya.

Menurut Koster, teknologi tidak boleh menggerus nilai, identitas, tradisi, serta karakter masyarakat Bali maupun keharmonisan hubungan manusia dengan alam.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegas Koster saat membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026).

Dalam kegiatan bertema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” tersebut, Koster sekaligus menjadi pembicara utama.

Ia mengatakan perkembangan teknologi harus menjadi perhatian dalam pembangunan lingkungan binaan Bali, terlebih di tengah tantangan perubahan iklim, ancaman bencana dan kebutuhan pembangunan masa depan.

Koster menegaskan pembangunan Bali harus tetap berpijak pada karakter dan jati diri masyarakat Bali. Prinsip tersebut, kata dia, sejalan dengan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125 yang menempatkan keberlanjutan Alam Bali, Manusia Bali dan Kebudayaan Bali sebagai bagian penting pembangunan.

Menurut Koster, nilai-nilai Sad Kerthi juga harus menjadi landasan etis dan ekologis dalam pengembangan lingkungan binaan.

Dengan prinsip tersebut, pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan fisik dan teknologi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam dan kebudayaan.

Dorong Riset Pengetahuan Lokal Bali

Koster secara khusus mendorong perguruan tinggi dan peneliti menggali serta mengembangkan pengetahuan lokal Bali, termasuk Arsitektur Tradisional Bali dan Subak, melalui riset, inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Ia menilai modernisasi tidak berarti meninggalkan nilai-nilai masa lalu.

“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.

Koster juga meminta agar hasil penelitian tidak berhenti dalam bentuk publikasi ilmiah. Riset, menurutnya, harus dapat diterjemahkan menjadi solusi yang bisa diterapkan masyarakat.

Solusi tersebut dapat berupa prototipe, desain, standar, kebijakan, teknologi hingga model pembangunan.

Langkah tersebut diperlukan untuk membangun lingkungan binaan Bali yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim serta bencana, sekaligus hijau, rendah karbon dan berkelanjutan.

Bali Didorong Jadi Laboratorium Lingkungan Binaan

Untuk mewujudkan visi tersebut, Koster menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat hingga generasi muda dinilai perlu membangun ekosistem inovasi lingkungan binaan secara bersama-sama.

Melalui kolaborasi tersebut, Bali diharapkan dapat menjadi laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan yang mempertemukan kemajuan teknologi dan AI dengan kebudayaan, pengetahuan lokal dan prinsip keberlanjutan.

“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” kata Koster.

TI IPLBI Ke-14 Digelar Tiga Hari

Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, mengatakan temu ilmiah tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif, gagasan, hasil penelitian dan praktik terkait masa depan lingkungan binaan.

TI IPLBI ke-14 berlangsung pada 3–5 September 2026 dengan sejumlah agenda, mulai dari seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku hingga field trip arsitektur.

[14.50, 10/9/2026] Hery Palaguna: Agusintadewi berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kapasitas dan jejaring akademik sekaligus menghasilkan penelitian dan praktik lingkungan binaan yang inovatif serta berkelanjutan tanpa kehilangan karakter lokal.

Kegiatan turut dihadiri Ketua IPLBI periode 2024–2027 Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, para peneliti, akademisi, arsitek, perencana, praktisi serta peserta TI IPLBI ke-14.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *