Bali Dorong Kemandirian Energi, Koster: Bukan Sekadar Net Zero Emission

Facebook
WhatsApp
Telegram

DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali memperkuat langkah menuju kemandirian energi dengan mendorong penggunaan sumber energi bersih, baru, dan terbarukan. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, agenda Bali tidak semata mengejar target Net Zero Emission 2045, tetapi memastikan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Hal itu disampaikan Koster saat menerima audiensi Dewan Pengurus Provinsi Bali Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo) di Jayasabha, Denpasar, Jumat (28/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Pertalindo Bali menyampaikan sejumlah program dan kontribusi organisasi dalam mendukung pengelolaan lingkungan hidup, termasuk pemanfaatan kompetensi tenaga ahli, lembaga sertifikasi, serta laboratorium terakreditasi.

Ketua DPP Pertalindo Bali I Ketut Gede Dharma Putra mengatakan, organisasi yang menghimpun tenaga ahli lingkungan hidup itu berkomitmen mendukung pembangunan Bali, khususnya dalam bidang lingkungan hidup dan energi bersih.

Pertalindo Bali juga akan menggelar Rapat Kerja Daerah dan Konferensi Internasional pada 22 September 2026. Kegiatan tersebut akan berkolaborasi dengan Shinhwa University dan Universitas Udayana dengan mengangkat tema “Pemanfaatan Energi Bersih di Bali Menuju Net Zero Emission 2045.”

Dalam kegiatan itu, Gubernur Wayan Koster diundang untuk membuka acara sekaligus menjadi keynote speaker.

Koster menegaskan, arah kebijakan Bali tidak berhenti pada pencapaian target emisi nol bersih. Menurutnya, agenda yang lebih utama adalah membangun Bali yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.

“Bali tidak hanya Net Zero Emission. Agenda utamanya Bali Mandiri Energi. Sumber energinya bersih, baru dan terbarukan.”

Menurut Koster, kemandirian energi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem alam. Kebijakan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari implementasi konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Koster mengatakan pembangunan energi bersih harus memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat. Bukan hanya untuk memenuhi agenda perubahan iklim dunia, tetapi juga memastikan masyarakat menghirup udara berkualitas, hidup dalam lingkungan yang bersih, serta memperoleh pangan yang sehat dan berkualitas.

Karena itu, transformasi energi dinilai harus dibarengi dengan perluasan hutan, rehabilitasi kawasan hutan, serta peningkatan penanaman pohon. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan kemampuan alam menyediakan oksigen.

Pemerintah Provinsi Bali juga mendorong pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil secara bertahap.

Saat ini, sistem kelistrikan Bali masih mendapatkan sebagian pasokan dari pembangkit berbahan bakar fosil, termasuk sekitar 35 megawatt dari Paiton yang menggunakan batu bara.

Ke depan, Bali diarahkan meningkatkan pemanfaatan energi yang lebih bersih, antara lain tenaga surya, gas, energi gelombang, dan energi angin. Koster menyebut transformasi tersebut telah masuk dalam rencana sistem kelistrikan PLN dan prosesnya tengah berjalan.

Salah satu strategi utama dalam mewujudkan Bali Mandiri Energi adalah mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS.

Pemanfaatan PLTS didorong di berbagai fasilitas, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, hingga fasilitas lainnya. Pemerintah Provinsi Bali juga terus mendorong penggunaan PLTS melalui berbagai kebijakan dan Surat Edaran Gubernur.

Koster menyebut Pemerintah Pusat melalui Kementerian ESDM turut memberikan dukungan terhadap pengembangan PLTS di Bali dengan kapasitas hingga 1.500 megawatt.

Menurut Koster, semakin besar penggunaan energi bersih dan semakin kecil ketergantungan terhadap energi fosil, maka dampaknya diharapkan dapat dirasakan langsung masyarakat melalui penurunan polusi dan peningkatan kualitas udara.

“Dengan demikian kualitas udara bagus, polusi turun, penyakit juga menurun. Itu target saya.”

Koster menambahkan, kebijakan Bali Mandiri Energi pada akhirnya tetap sejalan dengan agenda global menuju Net Zero Emission 2045. Namun, bagi Bali, kebijakan tersebut memiliki landasan yang lebih mendasar, yakni menjaga alam dan menciptakan kehidupan masyarakat yang bersih, sehat, serta berkualitas.

Langkah Bali mendorong energi bersih dan kemandirian energi juga disebut mulai mendapat perhatian dunia internasional. Koster mengungkapkan dirinya bahkan mendapat undangan ke London untuk membahas kebijakan tersebut.

Perhatian tersebut menjadi indikasi bahwa langkah Bali dalam mendorong transisi energi tidak hanya relevan bagi kebutuhan daerah, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan arah perubahan sistem energi global.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *